jeudi 27 avril 2017

a post from facebook that i found

1. Not every girl wants to get married by 23. So before you ASSUME she's of marriageable age, ask her what her views on marriage are. One hint, might save you the drama- just because she does not want to get married now does not mean she never will. She has other plans for herself right now, let her live a little.
2. Just because a girl wishes to do her PhD after Masters does not mean she doesn't want to settle down in life. Give her a break, and respect the fact that she has the confidence to take that up, cos yeah, PhD is no joke. There will come a point when she would happily devote herself to her family, and balance it out with her work life. Her degrees, or lack of them, won't make any difference. Let her study while she wants to, okay?
3. Just because she is 27 and unmarried does not mean she's been rejected by many men. Maybe, being single is a choice she has made.
4. Just because she has recently gone through a break up doesn't mean she is vulnerable and available.
5. Just because most of her friends are boys, does not mean she is "having a good time" with all of them.
6. Just because she is ambitious doesn't mean she isn't a family person.
7. Just because she doesn't discuss her plans doesn't mean she's clueless about life. Give her a chance, alright?
8. After a hectic week, give her some time to relax over the weekend. Don't make that one weekend party make her look like a she's a frivolous party-girl without a job.
9. Just because she is out shopping alone does not mean she is depressed or lonely. It's how she relaxes, respect that.
10. Just because she is on a holiday alone does not mean she doesn't have company. Maybe it's a break to get back her lost confidence, or maybe that's how she is. Admire her spirit instead of giving her advice, okay?
11. Just because she is a woman doesn't mean she can't kick ass in military school.
12. Just because she doesn't know how to cook doesn't mean she won't make a good wife. Remember when you were just married and cooked chicken curry which was um, a disaster?
13. Just because she is pretty does not mean she is a whore. And just because she is friendly does not mean she is flirting with you.
Yes, we cry, we are emotional; we take things personally, and sometimes over-react to situations. But this does not give any one the right to judge us in the wrong way. Times are changing; don't confine her within those boundaries, no matter how orthodox you are. There are some who might be fighting this losing battle, yet compromising on their decisions and plans, just to please society. Respect and do share. Happy Kartini Day :))
Credit to Womansera

vendredi 7 avril 2017

Marcelline Desbordes-Valmore — Qu'en avez-vous fait?

(source: poesie.webnet.fr)

[REPOST] Tips Ujian DALF C1

(originally posted by Irsalina Salsabila, on https://irsalinasalsabila.wordpress.com/2013/10/10/tips-ujian-dalf-c1/)

Bulan Mei kemarin baru saja ikut tes ujian DALF C1 di Université de Caen, Basse Normandie dengan nilai 64,5/100. Kalau untuk daftar sekolah, sebenernya sih gak perlu level ini, cukup DELF B2 saja, kecuali yang mau ambil jurusan literatur, jurnalistik, dan sejenisnya. Saya terpikir untuk ambil tes ini berhubung masih di Perancis dan berada di lingkungan francophone, kemampuan bahasa masih keasah terus. Apalagi, tes ini berlaku seumur hidup, tidak seperti TOEFL, IELTS, atau beberapa tes bahasa lainnya yang ada batas berlakunya eg: 2 tahun, dll.
Untuk mengambil tes ini, persiapan saya self-studied. Jadi saya ingin berbagi mengenai persiapan saya sendiri. Ini 2 buku yang saya pakai untuk belajar :
  1. Cadre commun activités pour le CECR C1-C2, karangan Marie-Louise Parizet
  2. Production écrite niveaux C1-C2 du cadre européen, karangan Mariella CausaBruno Mégret
Buku pertama berisi berbagai macam aktivitas untuk melatih 4 bagian dalam tes. Dari mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan setelah membaca artikel, tips dan trik menjawab soal, latihan listening dan menjawab pertanyaan, mempersiapkan persentasi oral serta cara menulis berbagai macam essai mulai dari artikel, surat, mengungkapkan pendapat, summary beberapa artikel, dsb.
Buku kedua saya beli karena membahas jauh lebih detail tips dan cara penulisan untuk tujuan penulisan artikel yang berbeda beserta contoh-contoh essay dan rangkuman artikel yang terkonstruksi dengan baik.
Untuk mempersiapkan 4 bagian dalam ujian, metode yang dilakukan berbeda-beda.
  • Compréhension écrite : Untuk bagian ini, penting banget untuk memperkaya vocabulary dan wawasan mengenai hal-hal yang terjadi di Perancis. Beberapa website yang sering jadi referensi artikel di soal-soal ujian adalah: Le Point,LibérationLe figaro. Setiap membaca artikel, saya mencatat kata-kata baru yang dipelajari. Persiapan ini juga bisa dimanfaatkan untuk konstruksi argumen essai dalam bagian Production écrite.
  • Compréhension orale : Penting banget untuk membiasakan telinga agar bisa memahami dengan cepat maksut percakapan orang Perancis. Untuk bagian ini, saya mendengarkan podcast-podcast dari radio France Inter.
  • Production écrite : Untuk menulis, membahas dan mengerjakan soal-soal dalam buku ke-2 sangat membantu untuk melatih kita membuat tahapan konstruksi argumen. Selama latihan, saya menggunakan website lang-8.com untuk mengoreksi aspek grammar dan konten tulisan saya.
  • Production orale : Kalau untuk bagian ini, harus sering-sering ngomong bahasa perancis, latihan mengungkapkan pendapat, menjelaskan artikel secara terstruktur dan berdebat. Saya memanfaatkan lingkungan francophone disekeliling saya untuk mengajak diskusi tentang isu-isu aktual sehari-hari langsung bersama native speaker. Kalau tidak ada, bisa juga rekaman latihan berbicara sendiri dan didengarkan kembali jika struktur kalimat, aksen serta cara pengungkapan pendapat dapat dimengerti dengan jelas.
Saya tidak melakukan latihan soal sama sekali sampai sebulan sebelum ujian. Latihan dengan contoh-contoh soal bisa dilihat di bagian sample papers berikut ini : http://www.ciep.fr/en/delfdalf/index.php

vendredi 31 mars 2017

Au Revoir, Marie !


Bonjour à tous !

J'ai enfin avoir du temps d'écrire quelque chose sur mon blog. Mais à cette occasion, j'aime bien écrire ma rencontre avec Marie. Je l'ai rarement rencontrée, seulement quand je suis à l'IFI Bandung ou à l'université parce qu'elle enseigne la production orale aux étudiants de troisième semestre à sixième semestre.

Elle est arrivée à Bandung peut-être en octobre 2016, c'est aussi le mois où j'ai commencé à rapprendre la conversation en français avec elle. Vous savez bien pourquoi je la fais: après plus d'un mois de service de communauté à Subang, j'ai presque oublié comment parler français (alors que j'ai parlé aussi à mon père en téléphonant là-bas). Grâce à elle, j'arrive encore à parler français couramment. Elle corrige aussi mes fautes de vocabulaires si je les ai faites. Elle m'a appris aussi la phonétique française, ce qui n'est pas enseignée à l'université.

La classe de conversation se déroule du mois d'octobre 2016 au mois de février 2017. J'ai deux photos avec elle avant mon stage à SMA Plus Pariwisata Bandung (je pensais avant que ce serait mon dernier cours, mais je me souviens de l'argent que j'ai payé, alors j'avais l'intention de toujours venir) et aussi deux autres photos ci-dessous.


Le dernier jour de Luana (celle qui porte des lunettes noires et un vêtement blanc), car elle allait travailler à Kompas TV Kediri en tant que présentatrice

28 février 2017, je porte le voile bleu ici. Puis il y a Isfahan (le seul mec dans ce cours), madame Christina, kak Indah, kak Vina et kak Wilyanti

La dernière fois que j'ai rencontré Marie est au 23 mars 2017, où elle nous a donné les jeux et les gestes à l'atelier Clown. Mais, je suis rentrée chez moi trop tôt parce que mes chatons ont eu faim. Alors, je lui ai dit "au revoir".

Bisous,
@naragrandis

Pourquoi j'aime la langue française ? (source: francophonie.org)




Bisous,
@naragrandis

vendredi 24 mars 2017

Mon premier article en indonésien sur intipjurusan.com


Bonjour à tous!


C'était au mois de février que j'ai écrit cet article mais comme je suis trop occupée d'enseigner le français, je viens d'envoyer cet article par courriel au début de ce mois, et après deux ou trois semaines, c'est enfin publié. Voilà le ligne:
http://intipjurusan.com/2017/03/23/pend-bahasa-perancis-upi-nadia/
Vous pouvez aussi allez directement sur ce site en mettant mon code d'article: X159. Le code du premier article qui parle de même département est X121. Le contenu de cet article est:


Bonjour à tous! 
Hai para sahabat Intip Jurusan. Pertama, saya ingin kenalan sama kalian. Nama saya Nadia Rahmania, saya sedang menjalani semester 8 di departemen Pendidikan Bahasa Perancis UPI, sama seperti Aprilia, yang pertama kali berkontribusi sebagai perwakilan dari departemen ini. Saya sendiri mewakili angkatan 2013, selaku kakak kelas Aprilia. Dalam artikel ini, saya akan menyampaikan tentang pengalaman saya sebagai angkatan pertama yang menggunakan kurikulum 2013 di departemen ini karena empat keterampilan berbahasa (Compréhension Orale, Compréhension Écrite, Production Orale & Production Écrite), tata bahasa (Grammaire), Peradaban dan Kebudayaan Perancis (Civilisation Française), dan Sejarah Perancis (Histoire de France) sudah dibahas oleh Aprilia. Sebagai angkatan pertama yang menggunakan kurikulum 2013 (kurikulum di universitas, maksudnya), ada beberapa mata kuliah yang pada saat semester 5 harus memilih dan melanjutkan pilihan tersebut pada saat semester 7, alias dijuruskan. Kalian bisa memilih di antara 3 pilihan berikut:
  • Français pour les Objectifs Spécifiques (FOS), yaitu penjurusan di mana para mahasiswa/i akan dibekali ilmu tentang Pariwisata (pada matkul Français du Tourisme saat semester 5), dan saat semester 7 akan dibekali ilmu tentang perhotelan (Français de l'Hôtellerie et de la Restauration), kesekretariatan (Français du Secrétariat), bisnis (Français des Affaires) dan tentang media (Français des Médias) baik itu ilmu tentang media cetak, video, dll. 
  • Linguistique, yaitu di mana para mahasiswa/i akan dibekali ilmu tentang pembentukan kalimat (pada matkul Syntaxe du Français saat semester 5), dan saat semester 7 akan dibekali ilmu tentang pembentukan kata (Morphologie), makna kata dan kalimat (Sémantique), ilmu penggunaan bahasa di ranah sosial (Sociolinguistique) dan bagaimana cara menganalisis teks-teks baik secara sintagmatik maupun secara paradigmatik (pada matkul Analyse de Discours). 
  • Traduction, yaitu di mana para mahasiswa/i akan dibekali ilmu tentang penerjemahan, baik secara lisan (Interprétation) maupun secara tertulis.  

Saya secara pribadi memilih dijuruskan di bidang linguistik karena ada prospek untuk menjadi ahli bahasa, leksikografis (yang berurusan dengan penulisan kamus), guru/dosen bahasa, dll. Selain alasan sebelumnya, sejak pertama kali saya mempelajari linguistik secara umum (yaitu ketika saya duduk di semester 2), saya langsung tertarik di bidang itu. Saya sendiri juga baru mengetahui bahwa ketika mempelajari ilmu linguistik, ada 6 aspek linguistik yang saya telah pelajari secara mandiri setelah mata kuliah Linguistik Umum (Linguistique Générale), yaitu:
  • Fonetik: ilmu yang mempelajari bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa dilafalkan serta cara kerja organ tubuh yang berkaitan dengan pengucapan. 
  • Fonologi: ilmu yang mempelajari tentang ilmu pembendaharaan bunyi (fonem) bahasa, yaitu bunyi sebagai satuan terkecil dari ujaran/gabungan bunyi yang membentuk suku kata. 
  • Morfologi: ilmu yang mempelajari tentang pembentukan kata. 
  • Sintaksis: ilmu yang mempelajari tentang pembentukan kalimat. 
  • Semantik: ilmu yang mempelajari tentang makna kata dan makna kalimat. 
  • Pragmatik: ilmu yang mempelajari hubungan antara makna kata/kalimat dan konteksnya, entah itu tersirat atau tersurat (correct me if I'm wrong, yaaaa).

Berkat bidang linguistik, saya pun mampu menghafal banyak pola jenis kelamin kata-kata benda berbahasa Perancis melalui ilmu morfologi, serta alhamdulillah saya bisa mengembangkan pelafalan bahasa Perancis yang baik dan benar melalui ilmu fonetik dan fonologi yang saya ikuti di luar kampus. Seluruh ilmu yang telah saya share di sini merupakan linguistik murni dan semoga saja saya bisa langsung lanjut S2 dan mengambil bidang Linguistik di Perancis. Aamiin....Untuk kalian, para calon kontributor Intip Jurusan, perwakilan departemen Pendidikan Bahasa Perancis UPI yang memilih penjurusan FOS dan Traduction bisa ikut berkontribusi di postingan selanjutnya untuk berbagi ilmu dan pengalaman agar para calon mahasiswa/i di luar sana termotivasi untuk memilih salah satu di antara ketiga pilihan tersebut. 

Bagaimana dengan kuliah semester 8? Nah, saat ini saya sedang menjalani kuliah keahlian profesi yang bernama Program Pengalaman Lapangan alias PPL. Mata kuliah ini juga dapat diambil di baik semester ganjil maupun semester genap, asalkan tidak ada lagi mata kuliah yang mengulang kecuali bagi yang mengambil jalur non-skripsi (saya akan membahasnya di paragraf selanjutnya). Sebelum PPL, mahasiswa/i memiliki hak untuk memilih sekolah (SMA/SMK/MA) tempat pengabdiannya, namun keputusan akhir tetap ada di tangan departemen, jadi bisa saja kalian tidak dapat pilihan sesuai keinginan dan mau tak mau kalian harus belajar survive di tempat sesuai keputusan akhir. Mungkin kalian akan dapat pengalaman baru ketika mengabdi di sekolah. Di sini lah, kalian dapat membagikan ilmu bahasa Perancis kalian kepada para siswa/i SMA/SMK/MA se-Jawa Barat.

Bagaimana dengan tugas akhir, alias skripsi? Di sini, para mahasiswa/i mengajukan setidaknya dua judul yang akan dibimbing terlebih dahulu oleh dosen wali masing-masing para mahasiswa/i. Kemudian dipresentasikan salah satu judulnya di depan seluruh dosen. Ada tiga kemungkinan, yaitu bisa saja judul pilihan pertama diterima (baik diterima langsung maupun dengan perubahan), bisa saja malah judul pilihan kedua diterima karena kemampuan menjawab pertanyaan para dosen, bisa saja judul pilihan kalian benar-benar ditolak karena berbagai alasan, misalnya teori kurang kuat atau bahkan ada yang hanya sekedar membuat saja.

Tapi jangan khawatir, kalian masih bisa lulus, kok! Ada jalur alternatif agar mahasiswa/i bisa cepat lulus, yaitu melalui jalur non-skripsi. Jalur tersebut biasanya diperuntukkan untuk para mahasiswa/i yang kuliahnya banyak masalah (misalnya: cuti, semester 14, dll.), bahkan untuk mahasiswa/i yang proposal skripsinya ditolak dan merasa sudah menyerah.

Jalur non-skripsi di departemen ini memuat 3 mata kuliah (masing-masing 2 SKS) setara skripsi yang berjumlah 6 SKS, yaitu: 
  • Analyse des Textes Littéraires, yaitu menganalisis karya sastra yang mengandung pesan, artistik dan gaya bahasa. 
  • Travaux Dirigés, yaitu membahas kajian atau studi lapangan based on tema-tema yang ditentukan oleh dosen, misalnya ada tema-tema: situs-situs turistik (di Indonesia, ya... bukan di luar negeri), perayaan tradisional, seni tradisional dan budaya Indonesia yang akan dipaparkan menggunakan bahasa Perancis. Nanti sekelas hanya memilih satu tema yang telah disebutkan di atas dan observasi di tempat berbeda-beda. 
  • Mini-mémoire, yaitu membuat karya ilmiah seperti skripsi namun tidak melakukan penelitian lebih jauh. Yang penting mahasiswa/i mampu membuat karya ilmiah yang memiliki manfaat bagi pembelajaran bahasa Perancis.
Et voilà, kalian tetap bisa lulus kok, karena ketika kita bekerja, apakah judul skripsi dipertanyakan? Mungkin ketika ingin mendapatkan beasiswa akan dipertanyakan, tapi mudah-mudahan para mahasiswa/i yang mengambil jalur non-skripsi, tetap bisa mendapatkan beasiswa untuk lanjut studi S2 hingga S3. Aamiin...

Seperti yang dikatakan Aprilia, departemen ini is FULLY RECOMMENDED, karena mempelajari bahasa sebagai ilmu benar-benar membuat kita menjadi ahli bahasa yang in syaa' Allah baik dan benar. Berbeda halnya dengan yang hanya mengikuti les, tapi di sini saya nggak bermaksud menjatuhkan yang les bahasa, karena perbedaan yang mencolok terlihat antara yang belajar bahasa lebih dalam dan yang belajar bahasa untuk keperluan khusus saja. Namun bagi saya, keduanya sama-sama belajar bahasa :)

If you have any questions or if there is anything you don't (quite) understand, please comment below (tapi jangan nyindir loh!), plus aku juga menerima rekomendasi di kolom komentar, agar artikel saya kedepannya lebih baik dan lebih koheren lagi.

Merci beaucoup pour votre attention :)

Bisous,
@naragrandis

LATE POST : Le 62e anniversaire de mon professeur, Monsieur Toto


Bonjour à tous !

Enfin, je peux avoir du temps de mettre quelque chose en ligne ici. Cela fait vraiment longtemps, hein? Car je suis très très occupée pour apprendre le français aux lycéens. Moi, j'ai beaucoup de choses à y mettre en ligne plus tard :)

Je vous présente mon meilleur professeur (car personnellement, il est considéré comme mon autre père... hehehe), Monsieur  Toto, ou bien son prénom et son nom: Soeprapto Rakhmat. Il nous apprend l'Histoire de France, la Syntaxe du Français (pour les étudiants qui choisissent la linguistique) la Grammaire 5 et la Grammaire 6. Puis au septième semestre, il nous apprend l'Analyse de Discours (pour les étudiants qui choisissent la linguistique) et le Français du secrétariat (pour les étudiants qui choisissent le Français pour les Objectifs Spécifiques ou FOS).

Le 17 février, il fête son anniversaire et cette année il a 62 ans (vous connaissez alors son année de naissance, ne soyez pas paresseux de compter, hehehe). Cette année son anniversaire s'est passé au vendredi et que mes amis et moi le rencontre chaque mercredi, alors nous avons fêté un peu dans la classe de mini-mémoire 5 jours plus tard. La veille, j'ai acheté ce gâteau ci-dessous y compris 6 bougies.

Le texte du gâteau: Joyeux anniversaire, Monsieur, aïe aïe aïe :)

toute l'équipe des étudiants (sans Dhei, Nisa'a & kak Putri) qui finiront leurs études sans faire un mémoire

sans Meila, car elle prépare son GoPro Hero...

Un chef-d'œuvre de mon amie proche, Felicitas Devana

Bisous,
@naragrandis

jeudi 16 février 2017

Moi, en tant qu'étudiante de FLE (12) : L'échec

Avant d'écrire ce post, j'aimerais dire un petit mot en indonésien pour tous ce que j'ai mis en ligne aujourd'hui.

Aku mungkin me-reveal gimana ospek jurusan di UPI, sebenernya aku dapet kok esensi positifnya, tapi kalian juga harus tau gimana rasanya diuji mental karena sebelum kuliah aku nggak pernah digituin (dan berharap kedepannya alias angkatan 2017 ke bawah, gak akan ada pengujian mental. kasian dedek-dedek gemeshnya wkwkwkwkwk). Pengalamanku ospek jurusan itu 3 bulan dan bagiku itu lama banget ketimbang yang 2015 ke bawah (I wish I lived in that era, though...). Belum lagi ketika jadi panitia ospek jurusan, aku sengaja bilang ke adik tingkat: "Kalo sakit mah mendingan gak usah ikutan, kasian ntar di tempat malah kenapa-napa." meskipun adik tingkatku sangat menginginkan untuk ikut ospek jurusan. Langsung aja ya guys, intinya MOHON DI-FILTER aja positifnya, anggap siksaan tersebut cuman bercanda meski mereka pada serius di hadapan kita. D'accord?? :)

Ok, on revient au titre! Pourquoi l'échec? C'est une longue histoire et c'est aussi le semestre où j'abandonne ce qui est trop difficile pour moi.

Vous savez tous peut-être qu'en passant le septième semestre, j'ai passé des choses stressantes, ou encore j'étais malade en trouvant que j'ai l'hypotension. J'ai beaucoup réfléchi à mon mémoire... Je n'avais même aucune idée sur quoi je veux rédiger. Pendant que j'étudie ici, je n'ai pas du tout de problème (c'est-à-dire le problème sur la langue ou la littérature française). Peut-être que je ferais exister les problématiques pour mon mémoire... c'est ce que je pense depuis toujours. Ce que je veux aborder pour la rédaction de mémoire est toujours basé sur mon opinion personnelle, par exemple: ce film ou ce roman-là n'est pas encore analysé (en indonésien: yaaa karena objek penelitian tersebut belum pernah dianalisis dan pengen aja).

Je commence par mon mémoire à proposer. Mon premier titre est: Analisis Alur Cerita pada Novel dan Adaptasi Film Monsieur Ibrahim et les Fleurs du Coran Karya Éric-Emmanuel Schmitt ou en français c'est « L'Analyse de l'Intrigue de Nouvelle et d'Adaptation en Film "Monsieur Ibrahim et les Fleurs du Coran" d'Éric-Emmanuel Schmitt ». Ce titre-là n'est même pas admis par tous les professeurs (au 18 janvier 2017 et au 9 février 2017), car je n'arrive pas à répondre la question sur mon choix de nouvelle et de film. C'était toujours basé sur ce que je veux ou encore ce film n'est pas encore analysé pour les mémoires.

Puis mon deuxième titre est: Analisis Peristiwa Tutur Menggunakan Teori SPEAKING pada tokoh Elle dan Lui dalam Film Hiroshima Mon Amour (1959) Karya Alain Resnais ou en français c'est « L'Analyse des Événements de Parole en utilisant la théorie SPEAKING aux personnages Elle et Lui dans le film Hiroshima Mon Amour d'Alain Resnais ». J'arrive à y répondre au jour de l'examen et c'est accepté mais, je ne l'ai pas choisi. J'ai insisté de choisir le premier...

Après le deuxième échec... ma professeur m'a dit que je finirai mes études sans faire un mémoire après avoir dit qu'il y a quelques étudiantes qui ne sont douées en français que contextuellement. Elle nous a motivées aussi qu'on peut obtenir le master, trouver un boulot, ou dans un mot je veux dire: RÉUSSIR. Au début, j'ai trop pleuré... Ma professeur a peut-être pensé que je ne suis pas satisfaite mais je lui ai dit que son choix est déjà le meilleur pour moi. C'est-à-dire, ceux qui vont finir sans faire un mémoire ce semestre peuvent réussir en juin et la fête se déroulera in chaa' Allah en août cette année.

Honnêtement, je ne suis pas vraiment douée de faire une recherche scientifique, même quand j'ai suivi le cours appelé "Penelitian Pendidikan" (je l'ai mentionné avant, cherchez vous-même...), pas comme les autres. J'ai actuellement planifié depuis ma première année de suivre les cours de remplacement d'un mémoire parce qu'on écrit le mini mémoire en français. Cependant, quand j'étais au sixième semestre, il faut écrire le mini mémoire en indonésien à cause d'un étudiant qui écrit mal en français (soit l'orthographe, soit l'accent, soit la conjugaison, soit la grammaire). C'est triste... j'aimerais bien l'écrire en français... J'espère pouvoir convaincre mon professeur de ces trois cours pour pouvoir écrire en français encore et encore.

Alors, pour le huitième semestre, je suis les cours comme suite:
  1. Analyse des textes littéraires (2 pouvoirs)
  2. Travaux dirigés (2 pouvoirs)
  3. Mini Mémoire (2 pouvoirs)
  4. Ujian Sidang (0 pouvoirs)
  5. Program Pengalaman Lapangan (4 pouvoirs)
Le cours "Skripsi" (Mémoire) a 6 pouvoirs et les cours mentionnés ayant 2 pouvoirs sont tous le remplacement de Mémoire.

J'aimerais bien faire mon mémoire mais d'après moi, il faut que le déroulement soit comme les étapes ci-dessous:

  • Je parle à mon professeur de l'idée pour mon mémoire et il/elle me donne un alternatif ou modifier un peu sur ce que je lui discute.
  • Je fais l'arrière-plan, les problématiques, les objectifs et les avantages de recherche, les théories de mon sujet à proposer,  et les méthodologies de recherche.
  • Je donne mon document que j'ai fait ci-dessus à mon professeur, et quand il/elle s'intéresse, il/elle cherche directement les professeurs qui sont doués à mon recherche. SANS ÉPREUVE AVANT DE LE CONTINUER.
Voilà l'étape que j'aimerais passer. En indonésien je voulais dire: Ingin skripsiku langsung berjalan tanpa melalui ujian proposal. Mais... c'est la vie, hein? Parfois je suis jalouse de la chance des autres gens et je me demande encore: "Pourquoi pas moi? Pourquoi ce n'est pas moi qui a cette chance?". Je suis reconnaissante mais... ces cours de remplacement de mémoire m'empêchent (peut-être) d'obtenir une bourse d'études de mastère (sauf si l'on me recommande de refaire mon licence si je choisis un autre domaine, ou bien le même domaine) ou encore m'empêchent de trouver un boulot de même domaine.

Voilà ce que je pense aujourd'hui... il me faut du temps à laisser tomber cet échec. Peut-être que je suis née pour être ratée. Mais, on verra si je trouve un boulot de même domaine ou j'obtiens une bourse de mastère malgré les cours de remplacement de mémoire.

@naragrandis

samedi 11 février 2017

Moi, en tant qu'étudiante de FLE (11) : OSPEK JURUSAN part 7 (indonésien)

[bersambung dari part 6]

Ketika makan cemilan, aku pun packing tas ranselku, dan mengeluarkan apa yang akan kupakai ketika kembali ke UPI. Aku memikirkan suasana rumah, dan apa yang akan kulakukan untuk kedepannya. Aku rindu dimintai kabar... aku homesick... aku tak tahan lagi... J'avais hâte pour que cet événement ait terminé.

Kemudian, kami senam pagi yang dipandu oleh kak Ibay, sarapan pagi dan bermain games. Ketua kelompokku dapat hukuman, yaitu bercerita mengenai kisah cinta di antara kami berdua. La veille, c'était notre deuxième mois-versaire (kami putus di bulan ke-6 karena dia ingin mengurus masalahnya sendiri, mohon jangan salahkan aku yang membiarkan dia mengurus masalahnya, *mendadak flashback ketika KKN aku dinasehati di depan banyak orang alias dihina salah satu anggotaku ketika menceritakan hal tersebut). Baru saja dia ingin menunjukkan bagaimana aku "ditembak", Timdis pun datang dan ingin kami "melunasi" push-up sejak LDKM (jujur, aku nyaris gak bisa napas saat itu...). Ada yang berani, namun di sinilah titik puncak ketakutanku yang membuatku sering mengamuk ketika kuliah (disebabkan pelatihan mental yang merusak punyaku). Aku benar-benar dimarahi hingga air mataku keluar. Namun, ketika kami melakukannya, akhirnya kami di-stop oleh keluarga besar AEDF dan mulai berargumen dengan para panitia dan pembimbing.

Beberapa orang yang tidak ikut MORGAN dan LDKM diminta maju ke depan kami semua. Saat itu, air mataku langsung mengalir deras. Salah satu anggota Timdis pun berdiri di depanku dan berbisik, "GAK USAH NANGIS!", namun air mataku terus mengalir walau aku mengiyakan. Akhirnya aku dibawa ke P3K.

Akhirnya setelah keluar dari P3K, aku mulai memasang blind-fold dan mulai membuat lingkaran. Para anggota Timdis ada yang menangis, tegas, dll. Kami diminta menyanyikan lagu nasional "Syukur", dan setelah membuka blind-fold dan mata, para panitia teriak "SELAMAT DATANG DI AEDF", dan akhirnya Timdis meminta maaf pada kami. Dua orang dari mereka memelukku. Alhamdulillah, kami dinyatakan lulus pengaderan mahasiswa baru. Kami pun langsung upacara, kemudian kami diberi slayer himpunan. Je suis officiellement le membre de l'AEDF.

Tulisanku ini ditulis tangan di buku bleu-blanc-rouge pada tanggal 9 Oktober 2014 karena dirasa masih ada lembaran kosong. Aku mungkin rindu suasana itu, tapi aku paling benci ketika harus sugestiin diriku sehat, dipisahkan ketika bersama orang yang kucintai, serta dipaksa dalam hal apapun. Amanahku ketika berada di Kementrian Pendidikan AEDF mungkin berat, namun semuanya terasa hampa... Tapi tak apa lah, yang penting aku nggak terlalu capek berada di dalamnya. Kerjaku juga mungkin nggak maksimal, tapi tak apa lah. Cukup lebih maksimal di tempat kerja nanti. Aamiin...

Moi, en tant qu'étudiante de FLE (10) : OSPEK JURUSAN part 6 (indonésien)

[bersambung dari part 5]

Hari itu pun tiba. Aku ingat tanggalnya, 2-3 November 2013. Kami sarapan bersama para pembimbing, kemudian kami mendapat pengumuman dari monsieur Riswanda (salah satu dosen kami) agar kami semangat. Kemudian kami langsung berangkat menuju tempat tujuan yang bernama (kalau tidak salah) Parongpong, aku tidak begitu ingat. Aku merasa tidak kuat menaiki tanjakan di alam bebas, namun aku merasa dipaksa untuk melanjutkan hingga kami tiba. Jujur saja, ini pertama kalinya aku berkemah di alam bebas. Saat itu aku mulai merasa bahwa atribut dan tempat itu tidak dipikirkan oleh para panitia.

Kemudian kami membangun tenda. Kami menyewa 4 karena satu tenda untuk 2 kelompok dan para mahasiswa laki-laki tidur di tenda pramuka. Setelah itu, kami diberi materi P3K oleh KSR (Korps Sukarelawan) dan Survive di Alam Bebas oleh Mapad Purpala. Setelah pematerian, kami langsung makan siang, namun... Timdis mengganggu kami lagi. Kak Alifia meledekku karena berdekatan dengan ketua kelompokku (jujur aja, AKU BENCI DIPISAHKAN KETIKA BERSAMA ORANG YANG AKU CINTAI). Siksaan terberat pun kami hadapi kembali. Timdis tambahan kami hanyalah 6 orang dari angkatan 2009, dan salah satunya terlihat seperti Timdis "langganan" (c'est-à-dire, dia sudah bertahun-tahun menjadi Timdis). Tak kusangka, kami diminta makan dalam satu trashbag bersamaan. Setelah itu, ketua angkatan kami membaca atribut PAB yang dibawa. Alhamdulillah, aku tidak ada kesalahan sama sekali. Namun lagi-lagi kami dihukum secara fisik, melanjutkan hukuman yang kami dapatkan ketika LDKM, yaitu push-up, namun aku lupa harus melakukan itu berapa kali. Kemudian kami berganti pakaian di dalam tenda. Timdis pergi, para pembimbing datang lagi. Kemudian kami semua langsung shalat ashar.

Setelah ashar, Tim simulasi datang menghibur kami dengan games. Setelah menyanyi dan bermain satu permainan, Timdis pun datang lagi dan mereka ingin bermain games dengan kami. Kami menyanyikan yel-yel angkatan kami dan yel-yel untuk Timdis yang telah kami revisi. Kami bermain dua games, kemudian kami menyanyikan yel-yel hingga akhirnya mereka meninggalkan kami.

Kami langsung shalat maghrib dan isya, kemudian makan malam, kemudian talent show dari tiap kelompok. Kelompokku hanya medley tiga lagu: Perahu Kertas (Maudy Ayunda), Firasat (Raisa, originally by Marcell Siahaan), dan Lebih Indah (Adera). Kelompok yang paling lucu adalah kelompoknya Aldi karena mereka membaca puisi berantai tentang Kemerdekaan, Kisah Cinta dan Ayam Ternakku. Setelah talent show, kami langsung tidur di tenda masing-masing.

Tengah malam, kami dibangunkan oleh Timdis. Malam itu dingin sekali. Aku tak kuat menahan dinginnya (I almost suffocated at that time, though). Kami akan tracking malam di hutan. Kami diberikan minyak ikan untuk daya tahan tubuh. Pembimbing yang menemani kelompok kami adalah kak Amira (yang Januari 2017 baru dapet S.Pd, wkwkwkwk) dan kak Patria (seseorang yang menginspirasiku untuk semangat kuliah). Kami mengikuti simulasi kepemimpinan dari kak Ega, dan kakak-kakak lainnya. Namun di post bayangan, kami diharuskan memakan bawang putih dan rasanya ingin muntah (untung nggak bilang kalo aku sukaaaaaaaaaa banget bawang putih), namun itu untuk daya tahan tubuh kami. Di post bayangan terakhir, kami harus merangkak di lumpur seperti para tentara yang sedang diklat (pendidikan latihan).

Dalam keadaan kotor, akhirnya kami tiba di post terakhir, dan sudah ada Président de l'AEDF (saat aku jadi maru, kak Satria ketua himpunannya), kak Dedi (ketua komisi 1 sénat saat itu) dan kak Tria (ketua senat saat itu), serta kak Patria yang telah menemani kami di hutan. Kami mengeluarkan sedikit uneg-uneg dan komentar, namun aku hanya diam, walau aku telah merasa disiksa oleh Timdis. Setelah berkomentar dan mengeluarkan uneg-uneg, kami langsung membersihkan diri, kemudian siap-siap untuk shalat subuh. Aku memakai rok dan atasan pink, namun sayangnya aku tidak membawa kaus kaki cadangan.

[bersambung...]

Moi, en tant qu'étudiante de FLE (9) : OSPEK JURUSAN part 5 (indonésien)

[bersambung dari part 4]

Keesokan harinya, kami langsung shalat subuh, kemudian senam pagi yang dipandu oleh tim simulasi, kemudian kami melanjutkan sidang lagi berjam-jam. Aku memakan permen pedas hingga habis, agar aku tidak mengantuk.

Para kandidat ketua angkatan yang dicalonkan adalah Vikitra, Rizky, Azmi dan Aldi. Namun Aldi tidak sanggup mengemban amanah tersebut. Secara pribadi, aku ingin sekali memilih Azmi karena perilakunya yang sangat religius dan menjawab setiap pertanyaan secara logis. Namun selama kami dievaluasi timdis, Rizky menjadi penolong kami dan melihat kami secara prihatin dan pandai bertindak.

Setelah kami musyawarah, akhirnya Rizky menjadi ketua angkatan tetap kami, karena saat itu kami sedang membutuhkan seseorang yang pandai bertindak.

Alhamdulillah, kami semua sudah menyelesaikan rangkaian LDKM. Aku menunggu orang tuaku sambil melihat (baca: stalking) account Instagram Timdis 13, yaitu kak Harry dan kak Alifia. Aku menemukan mereka berdua lewat account-nya kak Kiko (coba cek http://monochrome-diary.blogspot.com/ to know more about kakak kelasku yang super fashionable ini).

Keesokan harinya, kami berkuliah lagi dan salah satu anggota Timdis melihat papan pengumuman. Aku menyapanya, namun ia tidak menjawabnya dan meninggalkanku. Mereka semua berubah. Namun aku berharap di hati mereka menjawab salamku. Rupanya LDKM adalah acara puncak dari seluruh kegiatan pengaderan.

Seminggu setelah UTS, kami mengikuti rangkaian PMB yang terakhir, yaitu Pengukuhan Anggota Baru (PAB). Sehari sebelumnya, aku ragu-ragu apakah aku akan ikut atau tidak, karena atribut yang harus kubawa sangat sulit dicari. Aku pun menangis... air mataku sangat deras mengalir di pipiku.

Akhirnya ketua angkatan membantuku. Alhamdulillah... Ia berkata padaku, "Jangan tidak ikut hanya karena barang yang tidak kamu bawa.". Kemudian kami diberi sedikit materi dari Mapad Purpala (Mahasiswa Pecinta Alam Pendidikan Bahasa Asing [Diksasi] — UKM Pecinta Alam khusus FPBS). Banyak di antara kami yang tidak akan ikut PAB, yaitu: Vira, Adila, Sarah, Unis, Winni, Alman, Adnan, Dhei, Illa, Elin, Icha, dan... entah siapa satu lagi... Terima kasih, Rizky, karena telah memudahkanku agar aku ikut.

[bersambung...]

jeudi 2 février 2017

Moi, en tant qu'étudiante de FLE (8) : OSPEK JURUSAN part 4 (indonésien)

[bersambung dari part 3]

Beberapa hari kemudian, aku izin tidak ikut acara dari para pembimbing karena aku harus les di IFI (Institut Français d'Indonésie). Temanku bercerita bahwa saat itu juga, kami berani sekali terhadap Timdis, karena mereka mengganggu acara kami dengan para pembimbing. Aku agak cemas, namun untungnya, temanku Fatma izin sebelum Timdis tiba-tiba datang. Kami berdua merasa aman. Saat itu, kami diberikan dua buah lagu, yaitu mars dan hymne AEDF.

Empat hari sebelum LDKM (Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa), kami dievaluasi kembali oleh Timdis. Satu-satunya dari kami yang berani menghadapi Timdis adalah Djuuna, teman sekelompokku. Kami diharuskan mengumpulkan tanda tangan kakak tingkat, minimal 80 buah. Bagiku itu sangat banyak, namun kami harus berusaha. Salah satu anggota kelompokku, Fatma, mendapat tanda tangan Timdis, yaitu ketika dia berkumpul di Ikatan Mahasiswa Tasikmalaya. Kali ini yang paling banyak omong adalah salah satu anggota Timdis angkatan 2011 yang mengenakan kerudung. Ia memanggilku ke depan dan ia bilang pada teman-temanku bahwa aku adalah maru yang paling banyak menyapa, mengucapkan salam walau tidak dijawab. Saat itu aku adalah orang yang paling takut terhadap mereka. Hatiku terasa tenang karena mematuhi apa yang Timdis mau. Ketika evaluasi selesai, aku langsung menuju salah satu anggota dan mengucapkan salam. Lagi-lagi aku menangis sampai di basement.

Tanggal 19 Oktober 2013, hari pertama LDKM, kali ini pengujian mental semakin parah. Salah satu anggota kelompokku, Natasha, mengalami keseleo setelah jatuh dari tangga. Aku hanya mengalami migrain walau aku tidak mengaku sakit. Ada satu orang angkatan 2010 yang mengenakan kaos hitam bertuliskan TIMDIS, namanya kak Norman. Aku mengetahuinya lewat Djuuna yang sempat ditanya oleh Timdis sebelum berbaris menuju lokasi LDKM. Kami membuat kesalahan lagi, yaitu tanda tangan kurang dari 80 buah, yang tidak ikut LDKM ternyata melebihi kesepakatan (I think it was twice the deal) kami dan Timdis. Akhirnya kami dihukum secara fisik walau dua anggota kelompokku telah mengumpulkan lebih dari 80 tanda tangan, yaitu Djuuna (>101) dan Narita (>91). Kemudian kami semua pergi menuju SDN 05 Cipedes, namun karena asmaku kambuh, aku ditemani kak Norman dan salah satu anggota Timdis13 yang mengenakan kalung salib (dan saat itu aku tak tahu namanya). Aku berterima kasih pada mereka dan aku tiba paling terakhir di lokasi LDKM.

Kami diberikan beberapa materi kepemimpinan oleh kak Laviana (sekretaris umum AEDF 2013-2014), kak Azzam (wakil presiden BEM REMA UPI 2013) dan kak Popi (Pend. Bahasa Perancis angkatan 2007, saat ini beliau menjadi asisten dosen di departemen kami). Kemudian pada saat makan siang, kami dipaksa Timdis menyanyikan yel-yel Timdis yang masih belum kami sempurnakan liriknya. Kami benar-benar "disiksa" ketika makan siang hingga akhirnya........... datanglah sekelompok orang yang mengenakan baju hitam dan satu orang mengenakan atasan pink dan kerudung biru. Suaranya menggelegar. Jumlah Timdis menjadi dua kali lipat dari Timdis inti. Salah satunya orang yang pernah tanda tangan di buku bleu-blanc-rouge-ku, kak Tiarani (dan alhamdulillah aku nggak kena marah beliau saat itu...). Mereka adalah Timdis perwakilan angkatan 2009-2010.

Akhirnya kami semua shalat dzuhur dan aku melihat Damara tampak kesal, namun (mungkin) tidak berani mengeluarkannya. Setelah shalat, kami bermain games yang ada kaitannya dengan kekompakan dan bermanfaat untuk kepemimpinan. Kemudian, kami diberi materi lagi oleh kak Zamrud (angkatan 2009) dan kak Irma (angkatan 2008). Setelah pematerian, Timdis pun datang lagi untuk meminta kami berpendapat sesuai materi yang diberikan (debat dan decision making). Jantungku berdetak sangat kencang bahkan aku sulit mengatur nafasku saat itu. Setelah mereka pergi, akhirnya kami dihibur oleh tim simulasi yang terdiri atas kak Kiko, kak Oga, kak Tiana dan kak Ibay. Kami pun bermain games, kemudian makan malam, shalat maghrib dan shalat isya. Setelah shalat, kami menyimak materi terakhir dari kak Patria (angkatan 2009) mengenai teknik persidangan dalam sebuah organisasi. Saat itu beliau sedang mengerjakan skripsinya.

Setelah pematerian terakhir, kami memulai sidang pemilihan ketua angkatan tetap tahun 2013. Kursi peserta sidang dibentuk seperti huruf U agar kami semua dapat melihat ketiga presidium, yaitu Rizky, Vikitra dan Medira. Saat itu aku tidak kuat lagi menahan migrain-ku hingga akhirnya, teh Asku memintaku tidur di P3K. Aku tak tahan mendengar point of information, point of order, dll. berulang kali dan membuat kami semua dipersulit.

Tak lama kemudian, aku bangun dan di kananku sudah ada Zahra, kemudian ada Riyanti, kemudian ada Illa (ia sudah pindah ke departemen PGSD Kampus Daerah). Kemudian, koordinator LDKM pun juga pingsan, bahkan kerudungnya dilepas. Sepertinya aku mendengar Timdis marah-marah dan akhirnya sidang ditunda hingga esok pagi. Kami sangat lelah dan harus segera beristirahat.

[bersambung...]

Moi, en tant qu'étudiante de FLE (7) : OSPEK JURUSAN part 3 (indonésien)

[bersambung dari part 2, sekaligus tulisan tangan di buku Bleu-Blanc-Rouge yang kami buat untuk ospek jurusan]

I made a title for this writing as "PENGADERAN MAHASISWA BARU 2013, selon mon point de vue", tapi karena ini masih bagian dari tulisanku tentang "Me as a French language student", judulnya di sini aja, wkwkwkwkwk. ˆ_ˆv

Pengaderan... terlintas di benakku selama tiga bulan pertama di kampus (dan saat ini berlangsung hanya satu setengah bulan bahkan kurang). Suatu kata yang saat itu baru saja kudengar. Bahkan segalanya yang kujalani... it's always been the very first time. No previous experience...

Pertama kalinya mentalku diuji adalah ketika aku dan teman-teman dimarahi secara tiba-tiba oleh sekelompok orang berkaus biru dongker bertuliskan TIMDIS13 di sebelah kiri atas kaus. Wajah-wajah mereka tampak kesal. Bahkan aku sendiri tidak mengetahui kesalahanku hingga akhirnya, aku memiliki satu kesalahan ketika acara perkenalan kampus yang juga disebut PEKA. Aku masih ingat tanggalnya, 30 Agustus 2013.

Kami semua dihukum. Hukumannya berupa: setiap hari kami harus memakai pin bleu-blanc-rouge, warna bendera Perancis, dan setiap hari Senin dan Kamis, kami diharuskan memakai kemeja dan rok untuk putri, kemeja dan celana bahan untuk putra. Warnanya bebas namun harus sopan. Saat itu aku bahkan merasa nggak punya kesalahan apapun terhadap mereka.

Minggu pertama kuliah, kami merasa baik-baik saja. Minggu kedua kuliah, kami dievaluasi oleh Tim Disiplin dan mereka mencari kesalahan kami, walau salah satu temanku, Medira adalah mahasiswi baru yang sopan. Kami mendapat hukuman berupa konjugasi 5 verba auxiliaire dan semi-auxiliaire, yaitu être, avoir, aller, venir, faire. Saat itu aku akan mengubah sikapku, bukan karena mereka, tapi dari niatku sendiri. Aku akan menyapa kakak tingkat walau hanya senyuman atau ucapan salam.

Evaluasi kedua kami adalah seminggu sebelum acara MORGAN alias Masa Orientasi Keagamaan (nama sebelumnya adalah Masa Orientasi Dasar Islam alias MODIS, namun tiga orang dari kami beragama Nasrani, jadi nama tersebut diubah). Mental kami benar-benar diuji. Sang pemimpin Tim Disiplin marah-marah karena beberapa dari kami hanya menyapa Tim Disiplin. Namun sang pemimpin hanya salut dengan Medira dan aku. Hingga akhirnya kami mendapat hukuman lagi, yaitu membuat kalimat dari kelima konjugasi yang sebelumnya menjadi tugas kami. Bahkan salah satu anggota Timdis ada yang keluar ruangan karena muak dengan kami. Setelah evaluasi selesai, aku pergi ke basement FPBS, kemudian menangis.

Tanggal 22 September 2013, kami semua mengikuti acara ospek jurusan bernama MORGAN. Bertempat di Masjid al-Mubarakah di Cilimus. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar, bahkan kelompokku memenangkan juara pertama lomba nasyid. Alhamdulillah ya Allah... seneng banget!!! Sayang sekali Elin tidak bisa hadir karena penyakit yang diderita olehnya. Namun ia senang mendengar kabar ini. Ia menulisnya via SMS.

[bersambung...]